Pemanfaatan tepung testis sapi sebagai hormon alami pada penjantanan ikan cupang, Betta splendens Regan, 1910 [Cow’s testicles flour as the natural hormone masculinization of Siamese fighting fish, Betta splendens Regan, 1910]


Andi Aliah Hidayani, Yushinta Fujaya, Dody Dharmawan Trijuno, Siti Aslamyah
 DOI  https://doi.org/10.32491/jii.v16i1.52

Abstract

Siamese fighting fish, Betta splendens male is a lovely color ornamental fish with unique shape fins that make it highly demand by the ornamental fish lovers. This study aims to perform sex reversal with masculinization fish production. The study was carried out in two stages i.e.: stage 1 by soaking the 4 days old fish larvae into a solution of cow testicles flour with different doses, stage 2 with different soaking time. Testicular dose tested consists of five levels i.e.: 0 mg L', 20 mg L-1, 40 mg L-1, 60 mg L-1, and 80 mg L-1. Time immersions tested were: 0 hours, 24 hours, 36 hours, 48 hours and 60 hours. The measured parameter was the percentage of male fish produced. The results showed the highest per-centtage of male fish obtained at a dose of 60 mg L-1 and a 24-hour soaking time with a percentage value respectively 88.5% and 87.5%. The study provided information that masculinization technology in a solution of cow testicles applicable for fish larvae. This technology is easy to do so that farmers can use cow's testicles flour for masculinization for their fish production.

 

Abstrak

Ikan Cupang, Betta splendens jantan merupakan ikan hias yang memiliki keindahan warna tubuh serta keunikan bentuk sirip sehingga sangat diminati oleh pecinta ikan hias. Penelitian ini bertujuan melakukan pembalikan kelamin dengan menjantankan ikan cupang yang diproduksi. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu: tahap pertama dengan meren-dam larva ikan cupang berumur empat hari ke dalam larutan tepung testis sapi dengan dosis berbeda, dan tahap ke dua dengan lama perendaman berbeda. Dosis testis yang diuji terdiri atas lima tingkatan yaitu 0 mg L-1, 20 mg L-1, 40 mgL-1 60 mg L-1, dan 80 mg L-1. Lama perendaman yang diuji adalah: 0 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Parameter yang diukur adalah persentase ikan jantan yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ikan berke-lamin jantan tertinggi diperoleh pada dosis 60 mg L-1 dan lama waktu perendaman 24 jam dengan nilai persentasi ber-turut-turut 88,5% dan 87,5%. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa teknologi penjantanan melalui perendaman dalam larutan testis sapi dapat dilakukan pada larva ikan cupang. Teknologi ini mudah dilakukan sehingga pembudidaya dapat menggunakan tepung testis sapi untuk menjantankan ikan cupang produksinya.



Keywords

Siamese fighting fish; cow testis; masculinization; hormone

Full Text:

PDF

References

Arfah H, Soelistyowati DT, Bulkini A. 2013. Maskulinisasi ikan cupang Betta splendens melalui perendaman embrio dalam ekstrak purwoceng Pimpinella alpina. Jurnal Akuakultur Indonesia, 12 (2): 145150.

Bombata HAF, Somatun AO. 2008. The effect of lyophilized goat testes meal as first feed on the growth of "wesafu": an ecotype ci-chlid of epe-lagoon, in Lagos State, Nigeria. Pakistan Journal of Nutrition, 7(5): 686-588.

Connell DW, Miller GJ. 2006. Kimia Pencemaran. Diterjemahkan oleh Y. Koestoer. Uni-versitas Indonesia. Jakarta. 444 hlm.

Damayanti AA, Sutresna W, Wildan. 2013. Aplikasi madu untuk pengarahan jenis kelamin pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Depik, 2(2): 82- 86.

Dewantoro GW. 2001. Fekunditas dan produksi larva pada ikan cupang (Betta splendens Regan) yang berbeda umur dan pakan alaminya. Jurnal Iktiologi Indonesia, 1(2): 49-52.

Fulierton DS. 1980. Steroid dan Senyawa Terapetik Sejenis. In : Buku teks Wilson dan Gisvold. Kimia Farmasi dan Medicinal Organik. Editor : Doerge R.F. Edisi VIII, Bagian II. J.B. Lippincott Company. Philadelphia - Toronto. USA. pp. 675-754.

Hafez ESE. 1987. Reproductive Behavior. 4th edition. Lea and Febiger. Philadelphia. 537 p.

Hakim RH. 2008. Optimalisasi pemberian dosis hormon metiltestosteron terhadap keber-hasilan pembentukan monoseks jantan lobster air tawar (Cherax quadricarina-tus). Jurnal Protein, Jurnal Ilmiah Ilmu Peternakan-Perikanan UMM, 15(1): 117.

Hunter GA, Donaldson EM. 1983. Hormonal sex control and its application to fish culture. In: Hoar WS, Randall DJ, Donaldson EM (Eds.). Fish Physiology. Vol. 9 Reproduction, Part B Behaviour and Fertility Control. Academic Press, New York. pp. 223-291.

rmasari, Iskandar, Subhan U. 2012. Pengaruh ekstrak tepung testis sapi dengan konsen-trasi yang berbeda terhadap keberhasilan maskulinisasi ikan nila merah. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 3(4): 115-121.

Iskandar. 1996. Pemanfaatan testis sapi dalam teknik pengalihan jenis kelamin (sex reversal) ikan nila merah. Skripsi. Universitas Djuanda Bogor. 64 hlm.

Kwon YJ, Haghpanah V, Kongson-Hurtado ML, Mc Andrew JB, Penman JD. 2000. Mas-culinization of genetic female Nile tilapia by dietary administration of an aromatase inhibitor during sexual differentiation. Journal of Experimental Zoology, 287(1): 46-53.

Mantau Z. 2005. Produksi benih ikan nila jantan dengan rangsangan hormon metil testos-teron dalam tepung pelet. Jurnal Litbang Pertanian, 24(2): 80-84.

Mardiana. 2009. Teknologi pengarahan kelamin ikan menggunakan madu. Jurnal PENA Akuatika, 1(1): 37-43.

Martati E. 2006. Efektivitas madu terhadap nisbah kelamin ikan gapi (Poecilia reticulata Peters). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 26 hlm.

Meyer D, Guevara M, Chan W, Castillo C. 2008. Use of fresh bull and hog testis in the sex reversal of Nile tilapia fry. Paper presented at the World Aquaculture 2008, The Annual International Conference and Exposition of World Aquaculture Society and Korean Aquaculture Society. Busan, Korea. 26p.

Murni AP. 2005. Efektivitas hormon methyl testosteron terhadap sex reversal ikan. Risalah Pertemuan Ilmiah Penelitian dan Pe-ngembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi. BATAN. Jakarta. 23: 164-170

Muslim. 2011. Maskulinisasi ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan pemberian tepung testis sapi. Jurnal Akuakultur Indonesia, 10(1): 51-58.

Odin RY, Bolivar RB, Liping L, Fitzsimmons, K. 2011. Masculinization of Nile tilapia

(Oreochromis niloticus L.) using lyophi-lized testes from carabao (Bubalus bubalis carabanesis L.), bull (Bos indicus L.) and boar (Sus domesticus L.). In Better science, better fish, better life. Proceedings of the Ninth International Symposium on Tilapia in Aquaculture, Shanghai, China, 22-24 April 2011. AQUAFISH Collaborative Research Support Program. pp. 105-120.

Pandian TJ, Sheela SG. 1995. Hormonal induc-tiore of sex reversal in fish. Aquaculture 138(1-4): 1-22.

Piferrer F, Donaldson EM. 1989. Gonadal differentiation in coho salmon, Oncorhynchus kisutch, after a single treatment with androgen or estrogen at different stages during ontogenesis. Aquaculture 77(2-3): 243-250

Purwati S, Carman O, Zairin Jr M. 2004. Feminisasi ikan betta (Betta splendens Regan) melalui perendaman embrio dalam larutan hormon estradiol-17p dengan dosis 400 ^g/L selama 6,12,18 dan 24 Jam. Jurnal Akuakultur Indonesia, 3(3): 9-13.

Riani E, Sudrajat AO, Triajie H. 2010. Efektivitas ekstrak teripang pasir yang telah diformulasikan terhadap maskulinisasi udang galah. Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik, 12(3): 142-152.

Steel RGD, Torrie JH. 1993. Prinsip dan Prose-dur Statistika (Pendekatan Biometrik). Diterjemahkan oleh B. Sumantri. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 748 hlm.

Suhendar. 1997. Pengaruh metil testosteron ter-hadap perubahan jenis kelamin pada benih ikan mas berumur 25, 30, dan 31 hari. Karya Ilmiah. Fakultas Perikanan IPB Bo-gor. 55 hlm.

Yustina, Arnetis D, Ariani. 2012. Efektivitas tepung teripang pasir (Holothuria scabra) terhadap maskulinisasi ikan cupang (Betta splendens). Jurnal Biogenesis, 9(1): 6773.

Zairin Jr, M. 2002. Sex Reversal Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Penebar Swadaya. Jakarta. 113 hlm.

Article Metrics

 10.32491/jii.v16i1.52
   Abstract views: 329   PDF views or download: 111

 

Copyright (c) 2017 Jurnal Iktiologi Indonesia
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.